30 Dec 2018

2222 Kata dalam 2 Jam Perjalanan Pertama Kali Dengan Kereta Api


Saat masih kecil, aku bermain dengan banyak permainan seperti semua anak pada umumnya Tetapi juga gemar membaca seperti para orang dewasa yang dianggap oleh orang dewasa lainnya kutu buku. Rata-rata adalah buku pengetahuan anak semacam ensiklopedia, cerpen dan komik. Dibandingkan dengan bermain, membaca lebih kunikmati dengan tingkat menghibur yang setara seperti kartun-kartun Jepang favoritku pada hari minggu. Buku menyimpan banyak informasi. Kadang tanpa kita perlu mengalami suatu hal dan kejadian, kata yang tertuang dalam tulisan dapat membuat kita seolah mengalami hal yang sama. Misalnya saja, soal isi tentang suatu transportasi dalam buku yang selalu membuatku berkhayal berada di dalamnya dan mengucapkan pertanyaan kepada orangtuaku "kapan?", setiap kali aku melihatnya. Baik di buku maupun kartun, ada satu gambar transportasi dengan bentuknya yang panjang, disebut berlari terlalu cepat, dan kursinya terlampau banyak. "Pa,ma. Kapan naik kereta api?"
Entah mengapa, meski sudah membayangkan sedari kecil, baru setelah dewasa aku merasakan pengalaman tersebut yang terjadinya baru-baru ini, dimana aku melakukan perjalanan antar kota dengan kereta api Indonesia. Bukan sekedar kereta biasa, melainkan kereta api bima eksekutif yang berhasil memberikanku pengalaman pertama yang mengasyikkan. Coba baca deh, mungkin kamu akan menemukan sesuatu di dalamnya yang membuatmu berkata, "kapan?" sepertiku dulu.
Jangan lupa tunjukkan ekspresi. Karena bila kamu terdiam tandanya kamu iri, jika tersenyum tandanya kamu paham yang kurasakan, dan bila berdecak tandanya kamu ingin juga. Sementara bila kamu menutup halaman ini padahal baru mulai membaca tandanya...kamu kurang minat baca.

1. Sesekali, biarkan kenyataan sama persis seperti khayalan

Mari kita mulai cerita ini dari pena yang baru dicelupkan di dalam tinta, yaitu awalnya. Jadi, kamu tahukan kalau instagram adalah salah satu aplikasi paling banyak digunakan? Mereka bilang, cara cepat untuk membuat orang iri adalah menghiasi feed instagram dengan foto-foto menarik, sementara kebalikannya adalah cara cepat untuk menjadi iri. Dan yang membangkitkan rasa iri sekaligus keinginan masa kecilku menaiki kereta adalah saat aku melihat foto-foto kece para pengguna instagram dari Jepang.
Diantara foto seseorang yang duduk di kursi kereta sambil tersenyum lebar, berdiri di stasiun dan menatap kamera dengan penuh makna, serta menatap keluar jendela sambil melihat pemandangan, sejujurnya wajah dan pose kece hanyalah bonus yang menjadikan foto mereka menarik perhatianku. Yang membuatku paling tertarik adalah latar interior kereta yang mereka naiki. Ada yang dihiasi hello kitty, anpanman, hingga kereta yang terlihat bersih dan modern. Itulah Jepang. Indonesia sudah seperti itukah? Karena tak pernah memperhatikan perkembangan kereta api, tepat setelah proses iri terjadi aku menengok untuk pertama kalinya seperti apa kereta negeri di jaman now melalui instagram resmi KAI, yakni @keretaapikita.
Dari sanalah kusadari, bahwa selama ini aku kurang melihat dan menyadari perkembangan kereta api negeri. Gak pernah kusangka, kereta yang dulu kerap disebut kurang dalam fasilitas, bisa berkembang sangat pesat hingga kini terlihat seperti apa yang kulihat dari Jepang. Meski hanya dari foto, aku dapat merasakan kenyamanan yang dirasakan penumpang. Baik kelas ekonomi terbaru hingga eksekutif, isinya tertata rapi dan bersih. Melihat semua itu, aku tahu sudah saatnya untuk merasakan seperti apa menaiki kereta api tanpa perlu menunda lama. Ajaibnya, tepat setelah menunggu sebulan setelahnya dan menentukan tanggal libur, keberuntungan datang saat aku melihat pengumuman tiket promo dari PT. KAI, yaitu travel fair daop 8 Surabaya yang mengadakan promo diskon hingga 50% ke beberapa destinasi kota. Syukur dalam hati, aku selalu percaya Allah SWT Maha Esa.

2. Membeli tiket promo di event KAI "Travel Fair" dan bertemu dengan orang-orang asing yang kusebut teman

Awalnya ketika membaca mengenai promo yang diselenggarkan di Mall DTC Wonokromo Surabaya, aku sedang berada di tengah kota sekitar pukul 2 siang. Sementara batas berlangsungnya adalah pada pukul 16.00 WIB. Tidak sampai setengah jam perjalanan aku tiba di lokasi dan berharap dapat segera membeli tiket. Tetapi harapan tidak terwujud hari itu, antrian terlampau panjang harus membuat para petugas menutup akses dan menyuruh yang baru hadir untuk pulang dan kembali besoknya lagi.
Saat esok paginya aku kembali ke lokasi, tidak mengejutkan bila antri hari kedua akan jauh lebih panjang daripada hari pertama. Antrian tersebut seolah menggambarkan seberapa panjang kereta api itu. Kuberitahu saja apa yang harus dibawa pada saat mengantri pembelian tiket kereta api, yakni bolpoin. Karena panjang antrian, bolpoin yang dipinjamkan oleh petugas untuk mengisi formulir pun tidak cukup sehingga harus bergiliran memakai. Sebagai salah satu dari orang yang membawa bolpoin, tentu saja bolpoinku jadi incaran banyak orang untuk dipinjam juga. Tapi, gak masalah. Karena pada akhirnya bolpoin tersebut membuatku mengobrol dengan orang-orang asing yang kusebut teman.
Karena tidak pernah menaiki kereta, aku bertanya kepada salah satu orang yang meminjam bolpoinku cara mengisi formulir pemesanan tiket yang benar. Siapa sangka, pertanyaanku menarik perhatian yang lainnya juga. Jadilah kita semua saling share informasi untuk satu sama lain. Rupanya banyak juga yang belum pernah merasakan kereta api terbaru apalagi kelas eksekutif yang memang adalah promo saat itu. Mereka pun mulai mengobrol membandingkan kereta dulu dan sekarang. Salah satunya ibu yang membeli tiket perjalanan untuk tujuan Jakarta. Ia menceritakan bagaimana dulu saat naik kereta api bisa dapat makanan dan minuman gratis meski hanya nasi goreng. "Itu dulu gratis. Kalau sekarang, ya bayarlah", ujarnya. Tapi meski harus bayar, makanan di kereta api kini tersedia dalam banyak variasi menu yang lebih baik daripada sekedar nasi goreng.
Ada juga yang membeli tiket tujuan Semarang hanya karena ingin merasakan sensasi naik kereta api eksekutif. Ia mengatakan sudah terlalu lama tidak menaiki kereta. Terakhir kali, ia bahkan harus satu gerbong dengan ayam dan berdesak-desakan dengan banyak orang. Yang lucu, kami semua tertawa saat Ia memilih membeli tiket promo untuk tujuan akhir November buat liburan. "Kok pilih tanggal tua sih, mbak?" ujar cowok di depanku. "Ya dapat liburnya pas itu. Sing penting ngerasakno naik eksekutif." Jawabnya ikut tertawa.
Aku juga ikut jadi bahan tertawaan saat mengatakan tujuanku hanya sebatas Malang saja. "Walah, kok eman mbak. Antri panjang cuma ke Malang tok. Naik bus aja lho." Aku pun menjawab alasannya karena hanya memiliki waktu libur sehari.Tapi sampai menjelang akhir mengantri pun, mereka masih berusaha meyakinkanku untuk membeli tiket jarak jauh saja. Saat itu dalam hati aku berkata gak apa-apa gak beli yang jauh. Tapi kini setelah diingat perjuangan mengantri dan enaknya naik eksekutif, menyesal juga jadinya. 

3. Belajar untuk selalu tepat waktu seperti si kereta api

Saat hari keberangkatan yang kupilih tiba, Aku harus sudah berada di stasiun gubeng Surabaya pada pukul 6 pagi karena jadwalku adalah pukul 06.20 WIB. Jam 5 pagi aku keluar dari rumah agar dapat tepat waktu sampai stasiun. Saat itu aku yakin, bila memang kereta api telah mengalami kemajuan pesat, ketepatan waktu pastilah menjadi prioritas. Tiba di stasiun Gubeng ternyata tidak membutuhkan waktu selama yang kukira. Jalanannya cukup lenggang pada pagi itu sehingga aku dan adikku datang lebih awal dari perkiraan. Yah, aku mengajak adikku karena tidak ingin melakukan traveling sendiri. Kami berdua sama-sama tidak pernah menaiki kereta api, jadi tidak bisa mengandalkan satu sama lain. Tetapi seperti sebuah syair lagu, two is better than one. Solo traveling bagi beberapa orang mengasyikkan, tetapi memiliki teman seperjalanan selalu lebih menyenangkan.
Stasiun Gubeng terdiri dari dua bagian, yaitu yang lama dan yang baru. Kalau menaiki kelas eksekutif, turunnya di stasiun Gubeng baru. Dari saat di travel fair, aku baru tahu kalau membeli tiket gak langsung dalam bentuk boarding pass melainkan kode booking. Jadi terlebih dulu harus pergi ke mesin cetak yang ada di stasiun. Mencetak boarding pass setahuku harus dilakukan selambatnya sejam sebelum keberangkatan. Jadi sehari sebelumnya aku sudah pergi mencetak dan prosesnya sangat mudah, semenit saja gak sampai. Kepraktisan ini juga jadi salah satu bukti perkembangan kereta api Indonesia. 
Lokasi stasiun gubeng baru sangat bersih dan terawat. Kursinya banyak dan warga yang hendak berpergian pada waktu itu pun juga cukup tertib. Akses menuju kereta baru dibuka saat kereta telah tiba, yaitu tepat pukul 06.00 WIB. Dan kereta pertama yang hadir adalah kereta yang akan kunaiki, kereta api bima eksekutif.

4. Naik kelas eksekutif, karena yang pertama harus eksklusif

Aku ga paham cara mengetahui gerbong manakah kursiku berada, tapi semua diawali dengan yang pertama. Jangan malu bertanya karena semua petugas stasiun ada di sana untuk membantu. Posisi gerbong yang akan jadi saksi perjalanan pertamaku terletak di gerbong 8 yakni yang paling berdekatan dengan tempat masinis. Karena ini adalah tiket promo, jadi lokasi gerbong tidak bisa memilih sesuai keinginan. Aku ga kecewa meski harapannya ingin berada di gerbong tengah dekat makanan. Hanya saja kalau berdasarkan subclass, gerbong yang dekat dengan gerbong makanan memang adalah yang paling mahal diantara subclass eksekutif lainnya.
Saat itu, gerbong 8 termasuk yang isi penumpangnya sangat sedikit. Paling hanya ada 5 orang selain aku dan adikku. Nomor kursi kami adalah 2a dan 2b. Kursi A adalah yang dekat dengan jendela dan B adalah sebelahnya. Menelusuri jalan menuju kursi sudah terasa sekali seperti foto-foto kereta Jepang yang kulihat. Setiap sudut sangat bersih, tersusun rapi, dan selalu ada bantal di setiap kursi. Tirainya pun menggunakan konsep 'pull down to release', artinya cukup tarik hingga paling bawah dan lepaskan, maka tirai akan terlipat dengan sendirinya. Konsep ini membuat jendela terlihat lebih bersih dan modern daripada gorden kain biasa. Yang menarik, kereta juga dilengkapi lampu baca di atas setiap kursi penumpang yang bisa digunakan bila lampu utama diredupkan.
Kursi eksekutif cukup empuk, kalau digunakan untuk perjalanan jauh pasti akan terasa nyaman dan terhindar dari pegal. Posisi kursi pun dapat dimiringkan sesuai keinginan. Terdapat pula tempat untuk meluruskan kaki yang bila tak ingin digunakan, maka secara otomatis akan terlipat dengan sendirinya. Jadi tak perlu menggerakkan tangan untuk membenarkan posisi. Kusadari, ada perbedaan yang jelas terasa besar dari menaiki kereta api dengan transportasi lainnya yaitu ruang gerak. Berada dalam kereta serasa berada pada sebuah ruangan lengkap dengan hal-hal yang paling dibutuhkan pada saat perjalanan. Mulai dari tempat duduk nyaman, toilet, ruang beribadah, hingga tempat untuk makan. Bila berada di dalam kereta api, perjalanan lama pun tak akan membuat sumpek atau gerah karena di setiap kereta kini sudah dilengkapi AC. 
Pada saat kereta mulai berjalan dan meninggalkan stasiun gubeng menuju stasiun Malang, akhirnya aku pun merasakan sendiri kenikmatan paling utama dari menaiki kereta api.

5. Diantara biru, hijau, dan coklat yang menjadi satu dengan warna lainnya dalam kecepatan kereta api

Negeri kita ini memang indah. Dianugerahi banyak kekayaan alam. Kalau menengadahkan wajah ke atas, langit biru melebur dengan putihnya awan melambangkan ketentraman. Saat melihat hamparan pepohonan dan sawah, warna hijau jadi dominasi yang melambangkan kesuburan. Gunung menjulang tinggi berwana abu-abu bercampur coklat menandakan kekokohan. Aktivitas paling utama yang harus kamu lakukan bila berada di dalam kereta adalah duduk, sandarkan badan ke kursi, dan tengoklah ke luar jendela. Hanya itu. Dan kamu akan menyadari betapa yang terbaik dari hidup, adalah ketika kita dapat menikmati isi dari tempat kita hidup. Meski kereta berjalan dengan cepat, pemandangan indah alam selalu dapat kita nikmati meski sepersekian detik mata kita terpejam untuk berkedip. 
Aku rasa itulah perbedaan terpenting dari menaiki kendaraan lain dengan kereta. Selain itu juga, meski kereta tak bisa berhenti sesuka hati di tempat yang kita inginkan seperti ketika menaiki kendaraan pribadi, tetapi kita tak akan merasa lelah menyetir atau khawatir bila duduk terlalu lama, karena tanpa kereta berhenti pun kita dapat berdiri dan berjalan di setiap gerbongnya biar badan tidak kaku. Terdapat pula gerbong makanan yang dilengkapi meja makan, sehingga memberikan nuansa seperti berada di kafe berjalan. Atau kalau malas gerak seperti aku karena masih harus melewati gerbong lainnya, tunggulah hingga petugas kereta api berkeliling menawarkan makanan dan kita dapat memesan dari mereka. Lebih praktis lagj ketimbang menunggu, tersedia jasa pemesanan makanan online kereta via email, sms atau whatsapp. Setelah memesan dan mendapatkan balasan berupa konfirmasi pemesanan, kita tinggal menunggu sesuai dengan jam berapa kita ingin menyantap makanan tersebut untuk kemudian diantarkan. Sekali lagi, kepraktisan menandakan kemajuan. Dan bila duduk di kelas eksekutif, kelebihannya terasa pada kursinya yang memiliki meja makan sendiri. Melalui lengan kursi tempat siku kita bersandar, terdapat meja lipat yang dapat kita keluarkan dengan sesuka hati. 
Kereta tak secepat pesawat di atas langit dalam waktu tiba, tetapi tak ada waktu yang terbuang sia-sia bila kita tahu bagaimana harus menggunakannya. Misalnya saja, kamu harus mengerjakan tugas di laptop tetapi khawatir kalau di dalam kereta tak akan mampu menyelesaikannya. Padahal di dalam kereta, tersedia colokan listrik untuk kabel laptop maupun charger hp. Ingin mengetik pun tak jadi masalah. Meja makan lipat tadi juga bisa beralih fungsi sebagai meja laptop. Cobalah juga berjalan ke gerbong makan, bawa laptopmu dan kerjakan apa yang perlu kamu kerjakan sambil menyeruput teh atau kopi hangat. Dan saat kamu mulai merasa lelah melihat layar laptop, tengoklah kembali jendela dan lihatlah pemandangan alam di sekitar. Bila memiliki rute perjalanan jarak jauh, akan ada lebih banyak lagi pemandangan alam indah lainnya

6. Dan terakhir tapi bukan paling akhir, kereta api menurunkanku di tempat penuh warna

Ketika tiba di stasiun Malang, aku menyusuri jalanan setapak meninggalkan kereta api yang telah menemani perjalanan yang sangat berkesan selama sekitar 2 jam. Tidak ada kekecewaan, tak ada lagi membanding-bandingkan. Aku rasa Indonesia pun telah mampu memiliki kereta sebaik kereta di negara maju lainnya. Dan yang terpenting adalah pelayanannya. Saat berada di kereta maupun saat turun, para petugas selalu mengecek dan memastikan keamanan serta kenyamanan para penumpang. 
Setelah berpisah dengan kereta api, aku berjalan diantara arsitektur stasiun Malang. Kebersihan sangat terjaga di stasiun tersebut sama seperti halnya stasiun Gubeng Surabaya. Toiletnya bersih terawat. Salah satu hal yang menurutku terpenting untuk dijaga. Stasiun Malang berada di lokasi strategis dekat dengan pusat kota, seperti balai kota dan alun-alun. Tetapi bila ke Malang, ada satu lokasi kampung yang jaraknya dengan stasiun bisa ditempuh dengan berjalan kaki yaitu kampung tridi dan kampung warna warni. Dua kampung ikonik yang kini jadi incaran banyak wisatawan untuk berkunjung.
Kampung dengan hiasan seni penuh warna di setiap dinding rumah hingga atapnya, semakin mempercantik dan mencerahkan suasana hatiku usai menaiki kereta. Tetapi walau sudah berada di satu lokasi, kemana pun dan dimana pun itu, aku menyadari bahwa yang paling memberikan kesan terkadang adalah proses perjalanannya. Dan aku bersyukur dapat merasakan perjalanan yang baik di salah satu kereta api Indonesia dengan kualitas terbaik.

2 comments:

  1. Nice post
    www.stylebasket.in
    Instagram:-Stylebasket24

    ReplyDelete
  2. That train looks very clean, attractive and efficient. I have not traveled by train in many years, but I don't think I have ever seen one that looks so clean. The seating in the passenger compartment of the executive class looks very comfortable and spacious. I also like the looks of the outfits you wore for your travels.

    https://full-brief-panties.blogspot.com/

    ReplyDelete

Follow Us @soratemplates